Showing posts with label Budaya Dan Tradisi Nusantara. Show all posts
Showing posts with label Budaya Dan Tradisi Nusantara. Show all posts

Jenuh? Inilah Kemerduan Suara Angklung Gubrag Khas Sunda Yang Akan Bikin Kamu Adem Waktu Ngedengernya

Jika mendengar kata angklung mungkin kita semua sudah tidak asing. Tapi tahukah kamu selain angklung juga ada kesenian yang namanya Angklung Gubrag khas Sunda?

Walaupun sama-sama angklung, nyatanya angklung gubrag khas Sunda memiliki beberapa perbedaan dibandingkan angklung pada umumnya. Salah satunya dari segi bentuk. Angklung gubrak khas Sunda memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan angklung pada umumnya.

Selain itu, perbedaan angklung gubrag khas Sunda dengan angklung biasa lainnya ada pada jumlah tabung. Angklung gubrang khas Sunda memiliki 3 tabung sedangkan angklung pada umumnya hanya memiliki 2 tabung. Dan inilah  kemerduan suara Angklung Gubrag khas Sunda yang akan bikin kamu adem waktu ngedengernya itu:

#1



#2





Pacuan Kuda Apik Dari Kefamenanu

Lomba pacuan kuda tradisional di Kefamenanu meriah karena diikuti oleh banyak peserta dari daerah sekitar dan juga peserta dari negara lain seperti Timur Leste.

Tidak hanya Jakarta-Palembang yang tahun ini meriah dengan penyelenggaraan pesta olahraga ASEAN Games karena pesta olahraga baru-baru ini juga diselenggarakan di Kefamenanu.
Jika kamu masih asing, Kefamenanu adalah nama sebuah kabupaten yang berada di kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) provinsi Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan Timur Leste. Dan di Kefamenanu baru saja terselenggara lomba pacuan kuda tradisional yang pesertanya datang dari mancanegara.
Lomba pacuan kuda tradisional ini baru saja terselenggara dengan sukses pada 18-21 Oktober 2018 kemarin. Dan tidak hanya didukung oleh pemerintahan setempat, acara ini juga didukung penuh oleh Kementrian Pariwisata RI.

Pacuan Kuda. Gambar: travel.kompas.com

Lomba pacuan kuda tradisional di Kefamenanu meriah karena diikuti oleh banyak peserta dari daerah sekitar dan juga peserta dari negara lain seperti Timur Leste. Beberapa distrik Timur Leste yang ikut perlombaan ini adalah distrik Ambeno dan Distrik Cova-Lima.
Asisten Administrasi Setda TTU menjelaskan bahwa lomba pacuan kuda tradisional ini adalah bagian dari rangkaian lomba pacuan kuda tradisional untuk memperebutkan Piala Bupati TTU.
Tidak hanya itu, beliau juga menyatakan bahwa lomba ini juga berfungsi sebagai daya tarik wisatawan untuk lebih mengenal Kefamenanu.
Selain lomba pacuan kuda tradisional, pada bulan September pemerintah daerah Kefamenanu juga sempat memperingati hari ulang tahun (HUT) Kefamenanu ke-96.
Dalam peringatan HUT ini pemerintah daerah Kefamenanu menyelenggarakan karnaval budaya yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat sekitar.
Bupati TTU Raymundus Sau Fernandez pun ikut serta dalam penyelenggaraan karnaval budaya. Baliau juga menyatakan bahwa karnaval ini adalah sebuah bentuk penghargaan terhadap budaya daerah yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia. Inilah kenapa seluruh etnis yang ada di Kefamenanu dilibatkan dalam karnaval dan diwajibkan menggunakan pakaian adatnya masing-masing.
Sama seperti lomba pacuan kuda tradisional, karnaval budaya di Kefamenanu sepertinya akan menjadi agenda rutin dengan harapan dapat menjadi daya tarik bagi turis lokal atau mancanegara untuk berkunjung ke Kefamenanu.
Kefamenanu biasa dikenal juga dengan nama kota Kefa. Terletak di lembah Bikomi menjadikan tidak banyak sinyal yang masuk ke kota.
Tidak hanya itu, Kefamenanu juga dikenal dengan “Kota Pintar Kedua” karena kota ini memiliki universitas negeri sendiri sekaligus sebagai universitas kedua di pulau Timur. Universitas lain yang ada di pulau Timor adalah Universitas Nusa Cendana yang berada di Kupang.
Itulah sekilas tentang Kefamenanu yang harus kamu ketahui walaupun sebenarnya ada banyak keindahan lain yang dimiliki olehnya.
Tapi setidaknya dari secuil informasi ini kita menjadi tahu bahwa ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melestarikan budaya dan menjaga kekayaan alam dan budaya yang sudah diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada Indonesia. Jadi, kapan kamu mau berkunjung ke Kefamenanu?



Sumber: Kompas, Wikipedia


<< Sebelumnya               Selanjutnya >>

Alasan Anyaman Flores Dikenal Internasional

Walaupun masih tergolong komunitas yang masih muda, Du’Anyam sampai saat ini berhasil memberdayakan 500 wanita asal Flores untuk melestarikan kerajinan ini.

Ada hal lain yang membuat orang mulai berfikir sesuatu tentang flores selain kecantikan alamnya. Yaitu kerajinan tangan berupa anyaman yang sudah dikenal di dunia internasional.
Mungkin kita adalah salah satu dari sekian banyak orang yang tidak menyangka bahwa di pulau Flores ada sebuah kerajinan tangan anyaman. Padahal, kerajinan tersebut sudah ada sejak lama disana dan diwariskan secara turun temurun sampai saat ini.
Satu hal yang membuat kita semua bangga dari kerajinan tangan ini adalah bahwa anyaman dari Flores ini, yang terbuat dari daun lontar berusia 3 bulan, rajin mengikuti ajang Internasional sampai penjualan ekspor keluar negeri. Salah satu ajang anyaman ini dipamerkan adalah ajang Salone Del Mobile di Milan, Italia.
Hanya saja, walaupun kini sudah mulai dikenal dunia, anyaman Flores adalah salah satu kerajinan yang dikategorikan hampir punah.
Untuk menjaganya dari kepunahan, masyarakat Flores membuat sebuah komunitas bernama Du’Anyam. Du’Anyam diambil dari bahasa Flores dimana Du’a memiliki arti Ibu dan Anyam bisa diartikan sebagai ibu anyaman.
Walaupun masih tergolong komunitas yang masih muda, Du’Anyam sampai saat ini berhasil memberdayakan 500 wanita asal Flores untuk melestarikan kerajinan ini.
Menurut salah satu anggotanya, Du’Anyam mulai berjalan pada tahun 2014 dengan cara mencari desa-desa yang terdampak masalah kekurangan gizi tapi memiliki kemampuan untuk menganyam seperti Flores Timur, Solor Timur, Desa Duntana, dan desa-desa yang lainnya.
Kerajinan anyaman ini seluruhnya berbahan daun lontar yang berusia tiga bulan. Setelah pemetikan, selanjutnya daun akan disuir atau dipisahkan antara tulang dan daun.
Daun yang sudah dipisahkan dari tulangnya ini kemudian direbus sampai air mendidih, dijemur hingga kering, dan lalu direbus lagi selama beberapa menit. Tujuan perebusan ulang ini adalah untuk membunuh mikroba yang dapat mengakibatkan kelapukan daun.

ilustrasi anyaman flores. Gambar: pipnews.co.id

Dalam segi warna, kerajinan anyaman ini menggunakan dua jenis pewarna. Pewarna alami dan pewarna sintetis.
Untuk pewarna alami, biasanya mereka menggunakan daun jati untuk warna merah tembaga dan juga kunyit untuk warna kuning tua.
Sedangkan untuk pewarna sintetis biasanya mereka menggunakan pewarna tekstil. Pewarna tekstil inilah yang kemudian menjadikan anyaman memiliki warna-warna yang semakin beragam.
Setelah melewati proses pewarnaan, barulah daun-daun lontar tersebut di sulap menjadi berbagai karya seni yang fungsional seperti tikar, keranjang, ataupun jenis anyaman yang lainnya.
Untuk menyesuaikan perkembangan jaman, terkadang kerajinan anyaman tersebut digabungkan dengan bahan-bahan non lontar dan menghasilkan produk yang lebih beragam lagi.
Karena dinilai mampu memberdayakan masyarakat setempat dan menghasilkan produk yang berkualitas, Du’Anyam terpilih oleh DBS Foundation dan mendapatkan dana hibah sejumlah Rp11 miliar melalui program bernama Social Enterprise Grant Programme.
Anyaman dari flores adalah bukti bahwa masih banyak kekayaan Indonesia yang membutuhkan perhatian lebih jauh. Perhatian yang diberikan inilah yang nantinya bisa dijadikan sebagai batu pijakan agar kekayaan tersebut bisa dikenal oleh masyarakat dunia terutama masyarakat Indonesia sendiri. Perhatian inilah bentuk dari kepedulian kita terhadap bangsa ini. Semoga menginspirasi.

Sumber: Travel Kompas



<< Sebelumnya                        Selanjutnya >>

Tuk Serco, Kearifan Lokal Masyarakat Kendal Dalam Menjaga Air


Air adalah salah satu elemen penting dalam kehidupan. Itulah kenapa keberadaannya harus selalu terjaga. Dan salah satu cara menjaga air agar selalu terjaga kelestariannya ini dapat dilihat bagaimana masyarakat Dusun Ngijo menjaga air melalui Tuk Serco.
Tuk Serco merupakan sebuah mata air alami yang berada di lereng Unggaran, Dusun Nginjo, Desa Purwogondo, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, yang dijaga oleh masyarakat setempat secara bergotong royong.
Salah satu bentuk gotong royong yang dilakukan oleh masyarakat sekitar adalah dengan membuat kesepakatan tentang penanaman pohon disekitar Tuk Serco. Masyarakat sepakat bahwa yang harus ditanam disekitar mata air adalah pohon keras seperti pohon petai, pohon durian, pohon durian, dan jenis pohon keras lainnya.
Tidak hanya kesepakatan untuk menanam pohon, masyarakat juga membuat kesepakatan tentang penebangan pohon di sekitar Tuk Serco. Pohon yang ingin ditebang harus memenuhi kriteria atau syarat tertentu seperti sudah memiliki diameter mencapai 80 sentimeter, tinggi mencapai 30 meter, atau usia pohon itu sendiri yang sudah mencapai 4-5 tahun.
Tuk Serco. Gambar: PressReader.com

Tuk Serco sendiri adalah mata air yang sangat penting di dusun Nginjo karena memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari mata air yang lain ditempat tersebut. Tuk Serco tidak pernah mengalami kekeringan. Bahkan pada saat musim kering atau kemarau, debit air Tuk Serco malah bertambah banyak.
Bagi masyarakat setempat, Tuk Serco bukanlah sebuah mata air biasa. Inilah kenapa Tuk Serco dijaga dengan cara yang ‘cukup berbeda’ dari mata air yang lain. Salah satu sebabnya karena adanya keyakinan secara turun menurun tentang Tuk Serco yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti flu, sakit kepala, ataupun batuk.
Tidak hanya itu, bahkan Tuk Serco diyakini mampu membuat orang yang mandi disana menjadi awet muda. Keyakinan yang ada pada Tuk Serco ini adalah salah hal yang menjadikannya tetap terjaga kelestariannya.
Selain dijaga secara gotong royong, masyarakat sekitar Tuk Serco juga mengenal tradisi nyadran yang merupakan tradisi untuk menjaga Tuk Serco yang sudah diwariskan secara turun temurun. Tradisi ini merupakan tradisi yang biasa dilaksanakan setiap Jumat Pahing terakhir sebelum bulan Ramadhan.
Pada saat tradisi nyadran biasanya masyarakat sekitar akan membuat sesaji tumpeng yang dibawa ke dekat Tuk Serco. Biasanya tradisi nyadran ini dilakukan dengan pembacaan doa yang diakhiri dengan makan bersama.
Nyadran adalah salah satu bentuk masyarakat sekitar Tuk Serco mensyukuri apa yang sudah diberikan alam kepada mereka. Bahkan bisa dikatakan bahwa nyadran adalah salah satu bentuk tanggung jawab manusia dalam menjaga alam hingga akhirnya alam ikut menjaga mereka.


Sayanusantara


Ref:
https://1001indonesia.net/tuk-serco-kearifan-lokal-menjaga-mata-air/



<< Sebelumnya                   Selanjutnya >>

Martonun, Seni Membuat Kain Ulos Batak Toba


Pernah ke Danau Toba? Itu mungkin salah satu pengalaman travelling yang tidak terlupakan. Tapi tahukah kalian bahwa ada harta lain di sekitar Danau Toba selain keindahan pemandangan serta keramahan penduduknya? Ya, kain Ulos.
Batak Toba adalah Etnik yang merupakan penduduk asli yang berada di sekitaran tepian Danau Toba. Suku ini adalah salah satu satu suku terbesar yang ada di Provinsi Sumatra Utara. Mereka mendiami wilayah yang relatif luas. Mulai dari daerah tepian Danau tadi, pulau Samosir, sampai dengan dataran tinggi Silindung dan Pahae. Dan kain Ulos merupakan salah satu kesenian masyarakat Batak Toba.
Kain Ulos merupakan salah satu kesenian yang masih bisa dijumpai di sekitaran Danau Toba. Bahkan tidak hanya disekitaran Danau Toba, bahkan kini kain Ulos sudah bisa ditemui di kota- kota besar dan dijual secara online. Tapi kita tidak akan membicarakan itu. Kita akan berbicara tentang Martonun, seni membuat kain Ulos.
Kata lain Martonun adalah bertenun. Sama seperti daerah- daerah lain di Nusantara, bertenun adalah salah satu tradisi membuat kain. Masing- masing daerah memiliki cara menenun tersendiri berserta motif dan nama kain hasil produksinya. Seperti misalnya kain tenun yang dibuat oleh masyarakat suku Sasak di Nusa Tenggara Barat.
Sama seperti daerah- daerah lainnya, Martonun atau bertenun biasanya dilakukan oleh kaum perempuan. Baik ibu-ibu ataupun anak gadis. Dan hasil dari bertenun inilah yang kemudian kita kenal dengan nama Kain Ulos.
Kain Ulos. Gambar: Seruni.id

Kain Ulos biasanya di kenakan dengan tiga cara. Naniabithon atau dililit, Sitalitalihononton atau disandang, dan ada juga yang digunakan sebagai Sisadanghononton atau Cindera mata dan perlambang dalam suatu upacara adat atau ritual. Namun walaupun digunakan untuk acara ritual dan adat, kain Ulos dibuat tanpa unsur- unsur ritual dan magis.
Pembuatan kain Ulos masih dengan cara yang tradisional. Itulah kenapa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuat satu kain Ulos. Seperti misalnya dalam pembuatan benang yang akan digunakan. Benang yang biasa digunakan terbuat dari kapuk atau kapas. Kapuk dipilah dan dipisahkan dari bijinya (biasanya dikenal dengan nama Mamipis) dan lalu dikembangkan (Mamusur). Kapuk atau kapas yang sudah diolah itu kemudian dipintal menjadi benang atau Bonang yang siap digunakan. Pintalan benang ini dikenal dengan nama Mangganti.
Seperti yang kita tahu, kain Ulos adalah salah satu kain yang memiliki banyak warna. Warna sangat banyak dan cara yang digunakan untuk mewarnai benang- benang inipun menggunakan cara yang tradisional.
Seperti misalnya warna Putih yang biasanya didapatkan dengan rendaman Tano Buro atau tanah kapur. Sedangkan warna merah didapatkan dengan campuran batu Hula, kunyit, dan kapur. Warna hitam menggunakan daun Salaon, arang tumbuhan dan Harumonting. Benang yang siap diwarnai kemudian dicelupkan pada bahan- bahan tersebut atau Aek Harabu yang dikenal dengan nama Marsigira. Benang yang sudah jadi lalu digulung atau Dihuluhul pada Hasoli atau alat tenun untuk kemudian siap digunakan.
Mungkin karena proses pembuatannya yang tidak mudah Martonun dilakukan hanya sebagai kegiatan sampingan selain bertani. Selain membutuhkan waktu yang cukup lama, Martonun juga membutuhkan kesabaran yang ekstra, ketekunan, ketelitian, dan juga keulatan dalam pembuatannya. Itulah kenapa pembuatan kain Ulos biasanya dijadikan sebagai bahan pelatihan diri dan menjadi bagian dari sikap seorang wanita dari suku Batak tradisional selain sikap gigih dan ulet.
Namun walaupun kain Ulos menjadi salah satu identitas bagi masyarakat Batak Toba, kain ini sempat mengalami kekhawatiran kepunahan. Setidaknya inilah yang dinyatakan oleh Sandra Niessen, seorang Antropolog berdarah Belanda. Sandra menyatakan bahwa kain Ulos akan punah dalam dua generasi mendatang. Bukan tanpa alasan dia menyatakan hal seperti itu, harga benang yang semakin mahal menjadikan harga kain Ulos juga semakin mahal dan sepi peminat.
Sandra ternyata bukanlah seorang yang asing bagi masyarakat di Sumatra Utara. Karena dia sudah pernah tinggal cukup lama disana. Sekitar tahun 1970-1980. Dan pernyataannya inipun kemudian di tulisnya didalam buku yang berjudul ‘Legacy in Cloth, Batak Textile of Indonesia’. Menyikapi sepinya peminat akan kain ini, Sandra kemudian bersama aktivis budaya Ojak Tampe Raja berusaha mengetuk kembali semangat melestarikan Ulos lewat workshop di festival- festival.
Kain Ulos adalah sebuah warisan budaya yang sangat berharga. Baik bagi masyarakat Batak Toba ataupun Indonesia secara umumnya. Karena dari kerajinan inilah kita akan mengetahui bahwa tanah Nusantara adalah tanah yang sangat kaya akan kerajinan dan kesenian yang sarat akan nilai- nilai kecerdasan manusia- manusianya. Jadi sangat disayangkan jika sampai hilang. Dan mungkin inilah yang dirasakan oleh Sandra Niessen saat itu. Dia yang datang jauh- jauh untuk meneliti kebudayaan masyarakat Batak Toba ternyata harus mengetahui bahwa bagian dari kebudayaan itu terancam punah di negerinya sendiri.
Dari pernyataan Sandra yang mengatakan bahwa bahan dasar untuk membuat kain Ulos yang semakin mahal seakan- akan memberitahukan kepada kita bahwa ekonomi ternyata sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan sebuah kerajinan tradisional. Tidak hanya kerajinan, bahkan budaya dan tradisi yang ada didaerah itupun sangat ditentukan oleh sebuah ekonomi.
Kegiatan Martonun. Gambar: Pinterest.com
Kerajinan atau tradisi adalah salah satu warisan nenek moyang nusantara yang harus selalu terjaga keberadaannya. Karena dari sanalah kita akan mengetahui jati diri bangsa ini seperti apa. Dari sanalah kemudian kita dapat mengetahui bahwa Sumber Daya Manusia di tanah Nusantara adalah Sumber Daya yang sangat luar biasa kaya dan tidak kalah jika dibandingkan dengan bangsa- bangsa lain didunia.
Bayangkan jika kain Ulos sampai hilang seperti yang ditakutkan oleh Sandra. Mungkin kita tidak akan tahu bahwa etnik Batak Toba adalah salah satu etnik jenius yang pernah ada di Nusantara. Lebih dari itu, jika kain Ulos benar- benar punah, mungkin anak cucu kita tidak akan mendapatkan bukti bahwa tanah Nusantara adalah tanah yang sangat kaya namun hanya mereka yang jenius yang dapat mengelolanya. Dan etnik Batak Toba adalah salah satunya.
Tuhan telah memberikan Nusantara banyak kelebihan dibandingkan dengan bangsa- bangsa yang ada didunia. Namun sayangnya, tidak semua orang yang ada di Indonesia dapat mengelolanya dengan baik. Karena pada nyatanya justeru lebih banyak orang yang mencintai bangsa lain dibandingkan bangsa Nusantara.
Kain Ulos adalah salah satu bukti bahwa Nusantara membutuhkan perhatian yang ekstra dari kita semua. Tidak hanya mereka pemerhati lingkungan ataupun menteri kebudayaan atau pemerintah setempat. Karena kita yang tidak mengenalnya sama sekali juga memiliki tanggung jawab serupa. Kanapa kamu yang tinggal di Indonesia bisa sampai tidak mengenal kerajinan asli Indonesia? apa kata dunia?
Sudah saatnya kita mengerti bahwa Indonesia yang saat ini ada merupakan kerja keras dari nenek moyang kita semua. Dari Sabang di barat sampai dengan Merauke di Timur. Mari kita hargai jasa mereka yang telah memberikan kita hidup di hari ini dengan menghargai dan menjaga apa yang telah mereka wariskan untuk kita semua. Saatnya kita peduli.

Sayanusantara


<< Sebelumnya                  Selanjutnya >>

Sekilas Seni Pantun Sunda Yang Harus Kamu Tahu

Siapa yang tak mengenal pantun? Ya, hampir semua orang Indonesia mengenal pantun. Kekhasan rimanya yang menimbulkan perpaduan bunyi dan pemilihan katanya yang kreatif menjadikan pantun terus dikenal masyarakat modern meskipun hanya orang-orang tertentu saja yang mempelajari kebudayaan pantun secara serius dan utuh. Pantun yang dikenal masyarakat Indonesia biasanya adalah pantun Melayu yang terdiri sampiran dan isi. Namun, tahukah kamu ada pantun yang juga dikenal dari Sunda? Kita perlu mengenal dan mempelajari pantun Sunda ini agar keberadaanya tetap lestari.

Nasib 14 Permainan Tradisional Indonesia Di Jaman Modern
...adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuhan. Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congklak dan 98 (14 x 7) buah biji yang dinamakan biji congklak atau buah congklak... Baca Selengkapnya

Pantun sunda adalah sebuah kesenian yang sudah cukup tua. Seperti misalnya dalam naskah Siksa Kanda ng Karesyan (1518) yang menyebutkan bahwa seni pantun sunda ini sudah ada sejak zaman Langgalarang, Siliwangi, dan Banyakcatra. Seni pantun sunda inipun biasanya disajjikan oleh tukang pantung yang dikenal dengan nama Prepantun. Salah satu contoh seni pantun sunda terdapat dalam naskah kunu yang dituturkan oleh Ki Buyut Rambeng yang berupa Pantun Bogor.
Seni pantun sunda biasaya berisi cerita yang memiliki nilai tinggi yang terus bertambah seperti misalnya cerita Lutung Kasarung, Ciung Wanara, Sumur Bandung, Demung Kalagan dan yang lainnya. Salah satu masyarakat sunda yang akrab dengan pantun sunda adalah masyarakat Kanekes yang masih memegang erat ajaran sunda hingga saat ini.
Ilustrasi gambar: bulandolar.com
Seni pantun Sunda biasa disajikan dalam dua bentuk, yakni untuk hiburan dan acara ritual ngaruat (ruatan). Namun yang lebih banyak dikenal masyarakat saat ini adalah pantun untuk hiburan. Seni pantun Sunda merupakan seni yang sudah cukup tua usianya. Seni pantun Sunda berasal dari zaman pra islam, maka pantun termasuk karya sastra klasik sunda, namun demikian dalam perjalanan sejarah pantun mengalami pengaruh dari luar pula, baik pengaruh dari kebudayaan islam maupun kebudayaan barat sehingga jelas tercermin dari kata-kata maupun bagain-bagian tertentu.

baca juga: 

Pantun Sunda berupa pertunjukan cerita tutur berupa paparan atau dialog, bahkan sering pula dinyanyikan yang diiringi oleh bunyi kecapi. Pertunjukan pantun Sunda dimulai dengan menyajikan sesajen, ngukus, mengumandangkan rajah pamunah, babak cerita dari pembukaan hingga penutupan kemudian ditutup dengan mengumandangkan rajah pamungkas. Rajah pembuka dan rajah penutup biasanya dilagukan, sedangkan isi cerita dilagukan atau dibacakan narasinya. Rajah merupakan mantra yang merupakan doa dan mantra untuk mohon ampun kepada segenap roh nenek moyang penguasa wilayah, mohon ampun karena telah berani “mengusik dan “mengganggu” para roh pahlawan budaya Sunda yang sedang duduk sambil bertapa di kahyangan, dan mendatangkan daya  tak nampak mereka di tempat berpantun.
Pantun Sunda banyak melibatkan tokoh-tokoh dari kahyangan, nama binatang seperti Lutung Kasarung, dan juga menyebutkan bilangan tertentu seperti bilangan tujuh, empat puluh, sepuluh, dan delapan. Pertunjukan pantun dilakukan pada malam hari biasanya dimulai tengah malam sampai hampir terbitnya matahari untuk memenuhi permintaan keluarga  yang mempunyai hajat, misalnya menikahkan anak, syukuran sehabis panen, membangun rumah, atau menyunati anak.
Pantun Sunda mengandung beberapa nilai-nilai yaitu:
a. Nilai estetika
Terdapat pada keindahan nada dari bunyi kecapi yang dimainkan saat mengiringi pembacaan pantun. Isi yang terkandung dalam pembacaan pantun tersebut juga mengandung nilai-nilai estetika.
b. Nilai kebudayaan
Pantun digunakan dalam ritual khusus dalam upacara adat yang diminta masyarakat menunjukkan kebudayaan masyarakat Sunda.
c. Nilai harapan
Pantun Sunda mengandung pelajaran untuk kehidupan mengenai adanya pengharapan bagi kehidupan yang lebih baik di masa depan.
d. Nilai sosialisasi dan kebersamaan
Dalam melakukan pertunjukan pantun diperlukan kebersamaan orang-orang yang berpartisipasi sehingga mempererat proses sosialisasi masyarakat.
e. Nilai religius
Dalam ritualnya, pantun disajikan dengan memberi sesajen. Dalam hal ini, pantun mengandung nilai-nilai religius.

Pantun Sunda yang sarat akan nilai-nilai dan makna di atas perlu terus dilestarikan di zaman modern saat ini. Hal ini karena banyak pihak yang mengakui bahwa perkembangan seni pantun sunda sudah sangat memprihatinkan. Namun walaupun seperti itu, ada hal yang mengesankan dari perkembangan tersebut. Di beberapa daerah seni pantun sunda mampu bertahan dengan tidak meleburkan diri menjadi kesenian yang bersifat pop atau kitchs.

baca juga:

Di balik keadaannya yang memprihatinkan, ada beberapa ciri lain yang membedakan seni pantun sunda dibandingkan seni pantun dari daerah lainnya. Salah satunya adalah dalam aspek kepercayaan Sunda Kuna. Kepercayaan inilah yang mampu memberikan dampak terhadap nilai kedudukan seni pantun sunda pada masyarakat sunda dan membedakannya dari kesenian pantun yang lain. Seni pantun sunda ini daat menjadi salah satu cara atau medium bagi masyarakat sunda untuk mengingat sebuah masa keemasan sejarah masa lalu masyarakat sunda.

Sayanusantara


Referensi: Wikipedia


<< Sebelumnya               Selanjutnya >>

Mengenal Kesenian Gamelan


Salah satu kebudayaan asli Nusantara yang dikenal dengan baik oleh dunia adalah Gamelan. Lewat Gamelan inilah dunia dapat mengenal kebudayaan nusantara secara umum. Walaupun Gamelan sendiri terdiri dari beberapa jenis, dari Gamelan inilah kita bisa melihat satu gambaran dari bangsa Nusantara.
Kesenian Gamelan yang merupakan alat musik tradisional adalah alat musik yang biasa dimainkan dalam acara adat. Selain itu, Gamelan biasanya juga dimainkan sebagai musik latar dalam pagelaran seni seperti pertunjukan tari dan wayang. Dibeberapa tempat, musik Gamelan juga biasa dilantunkan dalam acara pernikahan.
Secara umum, kesenian Gamelan merupakan kesatuan dari berbagai macam alat musik tradisional yang dimainkan secara bersamaan. Itulah kenapa kata Gamelan biasanya merujuk pada alat musik atau instrumen. Berdasarkan bahasa, Gamelan sendiri merupakan kata yang berasal dari bahasa Jawa Gamel yang artinya memukul atau menabuh. (Baca: 18 Fakta Menarik Kota Solo. No.9 Pasti Kamu Ingin Coba Deh..)
Walaupun alat musik Gamelan identik dengan Jawa, namun nyatanya Gamelan tidak hanya ada di Jawa. Beberapa daerah lain yang memiliki Gamelan adalah Madura, Lombok, dan Bali. Namun walaupun begitu, masin-masing Gamelan dari wilayah tersebut memiliki keunikan dan kelebihannya masing-masing.
Seperti misalnya pada nada lembut Gamelan Jawa yang menggambarkan keserasian kehidupan jasmani dan rohani, serta keselarasan dalam berbicara dan berperilaku. Oleh sebab itu, orang Jawa berperilaku lemah lembut dan menghindari ekspresi yang meledak-ledak serta menjunjung tinggi toleransi terhadap perbedaan. 
Dalam mitologi Jawa, Gamelan awalnya diciptakan oleh Sang Hyang Guru pada saat Era Saka. Sang Hyang Guru sendiri merupakan dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa yang memiliki istana di Gunung Mahendra yang berada di Medangkamulan yang saat ini lebih dikenal dengan Gunung Lawu.
Awalnya, Sang Hyang Guru hanya menciptakan satu gong yang dipergunakan untuk memanggil dewa. Namun, karena suara yang dihasilkan kurang spesifik, Sang Hyang Guru kemudian menciptakan dua gong hingga akhirnya tercipta satu set alat musik Gamelan. 
Satu set Gamelan. Gambar: tes.com
Dari segi sejarah, Gamelan merupakan sebuah alat musik yang didahului budaya Hindu-Budha pada saat awal pencatatan sejarah di tanah Nusantara. Bahkan kini, Gamelan sudah menjadi seni yang mewakili Indonesia di dunia Internasional. Namun, walaupun kental dengan kebudayaan Hindu-Budha, instrumen Gamelan baru dikembangkan pada zaman kerajaan Majapahit hingga bentuknya sampai sekarang ini. (Baca juga: 21 Makanan Tradisional Jawa Tengah)
Seperti telah disinggung diawal, Gamelan merupakan kumpulan dari beberapa alat musik yang disatukan dan dimainkan secara bersama-sama. Beberapa alat musik utama dalam Gamelan adalah Kendang, Bonang, Saron, dan juga Gong.
1. Kendang
Kendang atau biasa juga dikenal dengan nama Kendhang merupakan salah satu instrumen Gamelan yang berfungsi untuk mengatur irama. Kendang dimainkan dengan cara dipangku atau diletakkan pada suatu dudukan kayu kemudian ditepuk-tepuk menggunakan tangan tanpa alat bantu lainnya.
Satu hal unik dari kendang adalah cara memainkannya. Kendang biasanya dimainkan sesuai naluri pemainnya. Itulah kenapa nuansa Kendang selalu berbeda jika dimainkan oleh pemain yang berbeda pula. Selai itu, Kendang kebanyakan hanya dimainkan oleh para pemain Gamelan yang sudah professional dan sudah lama menyelami kebudayaan Jawa.
2. Bonang
Selain kendang, kesenian Gamelan juga terdiri dari Bonang yang secara umum terdiri dari dua jenis: Bonang Barung dan Bonang Penerus. Perbedaan antara Bonang Barung dan Bonang Penerus adalah ukurannya. Bonang Barung berukuran sedang serta beroktaf mulai dari tengah sampai tingi. Bonang Barung termasuk salah satu instrumen pembuka dalam Ansambel.
3. Saron
Saron dalam kesenian Gamelan biasa juga dikenal dengan nama ricik yang termasuk keluarga balungan.
Dalam satu set alat musik Gamelan biasanya memiliki 4 buah saron dimana kesemuanya memiliki versi pelog dan slendro yang terbuat dari kayu dengan bentuk seperti sebuah palu. Berbeda dari alat musik yang lainnya, saron biasanya menghasilkan nada satu oktaf lebih tinggi dari pada demung dengan ukuran fisik yang lebih kecil.
4. Gong
Selain terkenal di Nusantara, gong termasuk alat musik pukul yang dikenal dengan baik di Asia Tenggara dan Asia Timur. Berbeda dengan alat musik lainnya, untuk mendapatkan nada yang pas biasnaya gong harus dbilas dan dibersihkan sebelum digunakan. Bahkan jika nada yang diinginkan belum sesuai, gong biasanya di kerok sampai lapisan perunggunya lebih tipis.
Gamelan merupakan salah satu keesenian asli tanah Nusantara yang banyak penikmatnya di luar negeri. Bahkan, dibeberapa negara, ada banyak kelompok pemain Gamelan yang aktif berlatih bahkan menggelar pementasan. Seperti misalnya di Amerika Serikat dimana terdapat 300 set Gamelan yang berasal dari Indonesia yang dimainkan oleh komunitas Gamelan disana.
satu set Gamelan. Gambar: musicofsound.co.nz
Kemahiran memainkan alat musik Gamelan yang merupakan kekayaan budaya asli Nusantara perlu diturunkan kepada generasi muda. Generasi tua perlu mengenalkan dan mengajarkan pada generasi muda lewat pendidikan budaya di sekolah-sekolah, misalnya diadakannya ekstrakurikuler Gamelan atau yang sering disebut Karawitan. Selain itu, para pegiat seni perlu menjangkau generasi muda melalui media sosial, misalnya dengan membuat vlog untuk mengenalkan dan mengajarkan memainkan Gamelan. Bahkan, melalui media sosial, pegiat seni dapat membentuk komunitas yang dapat menarik keterlibatan generasi muda melestarikan kesenian Gamelan ini. (Baca: Nasib 14 Permainan Tradisional Indonesia Di Jaman Modern)
Kesenian Gamelan adalah salah satu bukti bahwa bangsa Nusantara merupakan bangsa yang besar pada masa yang lalu. Bahkan sampai saat ini, banyak orang asing yang datang ke Indonesia hanya untuk mengenal lebih jauh tentang Gamelan dan akan sangat disayangkan jika ternyata anak muda Indonesia yang justeru tidak mengenal Gamelan sebaik mereka. (Baca: 4 Alasan Kenapa Kita Harus Melestarikan Budaya Indonesia)
Gamelan adalah gambaran dari keindahan, keharmonisan, bahkan cara bangsa Nusantara bersikap dalam kesehariannya yang penuh dengan keharmonisan dengan alam sekitar.


<< Sebelumnya                  Selanjutnya >>

Terbaru

13 Fakta Kerajaan Majapahit: Ibukota, Agama, Kekuasaan, dan Catatan Puisi

  Pendahuluan Sejarah Kerajaan Majapahit memancarkan kejayaan yang menakjubkan di Nusantara. Dalam artikel ini, kita akan menyelami 20 fakta...