Nyaris 0 Derajat. Dieng? Bukan! Ini Penampakan Kota Terdingin Di Indonesia Yang Tidak Banyak Orang Tahu


Apa kata pertama yang kalian pikirkan ketika ada seseorang menyebutkan kata Papua? Kekayaan alam? Ternyata Papua menyimpan banyak tempat indah yang harus kamu coba kunjungi dalam waktu dekat.
Di kenal juga dengan nama distrik Mulia, kota Mulia adalah kota terdingin di Indonesia yang ada di Papua. Baru pertama kali dengar? Berikut penjelasan singkat dari kota terdingin di Indonesia tersebut.


gambar: pixabay.com


Kota Mulia adalah salah satu kota yang berada di Kabupaten Puncak Jaya Wijaya, Papua. Kota ini ada pada ketinggian 2.448 meter dari permukaan laut. Saking dinginnya, konon saat malam tiba suhu di kota Mulia ini bisa mencapai 9 derajat celcius. Mendekati 0 derajat!!

Baca juga: Nasib 14 Permainan Tradisional Indonesia Di Jaman Modern

Jika memang disana dingin bagaimana cara hidup masyarakat disana? Salah satu cara hidup masyarakat setempat untuk mengatasi dingin adalah dengan tinggal didalam honai yang merupakan rumah adat khas Papua. Karena hanya memiliki satu pintu dan tidak memiliki jendela, honai adalah tempat tinggal ideal bagi masyarakat setempat karena mampu menahan dinginnya udara sekitar. Walaupun seperti itu tidak semua bangunan menggunakan honai karena tetap ada bangunan yang terbuat dari semen dan bahan-bahan lain seperti bangunan pada umumnya. Hanya saja bangunan seperti itu biasanya hanya digunakan sebagai bangunan pemerintahan atau pelayanan publik.
Walaupun berada di atas ketinggian 2.448 mdpl, kota Mulia bukanlah sebuah kota yang tertinggal atau terbelakang. Karena kota Mulia sendiri diperkirakan memiliki penduduk mencapai 24.649 jiwa dan sudah dilengkapi dengan infrastruktur yang berfungsi sebagai pelayanan publik. Salah satunya adalah sekolah sampai dengan rumah ibadah dan bandara.

Baca juga: 4 Alasan Kenapa Kita Harus Melestarikan Budaya Indonesia

Daya tarik lain yang dimiliki oleh kota Mulia adalah pemandangan alamnya. Karena berada di dataran tinggi dan berada di kawasan puncak Jaya Wijaya, kota Mulia memiliki pemandangan alam yang indah dengan landscape pegunungan Jaya, sungai dengan air yang jernih, lembah hijau, dan sebagainya.


Video: Youtube/Donny Renmaur

Kota Mulia adalah salah satu destinasi yang harus kamu kunjungi jika sedang atau akan mengunjungi papua. Pasti akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan saat mengunjunginya.

Baca juga: 3 Langkah Mudah Mencintai Indonesia

Hanya saja untuk mencapai kota Mulia tidaklah mudah. Karena kota tersebut berada di ketinggian, maka cara termudah untuk mencapainya adalah dengan pesawat terbang jenis caravan. Karena jika menggunakan jalur darat kita akan membutuhkan waktu selama 16 jam untuk sampai kesana setelah melewati jurang dan jalan berbatu khas daerah pegunungan.
Apa kamu tertarik untuk mengunjungi kota Mulia? Apa gambaran pribadi kamu tentang kota ini? Tuliskan pendapat kalian tentang kota Mulia sebagai kota terdingin di Indonesia ini di kolom komentar dibawah.


Salam
Sayanusantara


Sumber: Kumparan.com

Kisah Bagaimana Buah Pala Bisa Lebih Mahal Dari Emas Dan Menjadi Barang Termahal Di Dunia


Kita semua tentu sudah tahu bahwa sebenarnya Indonesia adalah sebuah negeri yang Gemah Ripah Loh Jinawi. Semua yang dibutuhkan ada sampai dengan rempah-rempah. Dan kali ini kita akan membahas tentang Kepulauan Rempah-Rempah Indonesia yang sangat terkenal di dunia sampai saat ini.
Spices Island atau kepulauan rempah-rempah pernah menjadi primadona yang membuat tanah Nusantara sangat terkenal di dunia di masa lalu. Bahkan banyak penjelajah yang mencari tahu bagaimana cara mencapai pulau ini. Bahkan kepulauan inilah tempat penjajah pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Nusantara.


Saat ini kepulauan tersebut lebih dikenal dengan nama pulau Maluku. Terdiri dari beberapa pulau kecil, Maluku pernah menjadi kiblat banyak penjelajah dunia. Dan salah satu alasan kenapa banyak yang mencarinya adalah karena harga rempah pada saat itu jauh lebih tinggi dibandingkan harga emas.
Salah satu yang dicari banyak orang di kepulauan rempah-rempah di Indonesia adalah buah Pala. Mungkin jika saat ini kita bisa membeli pala dengan harga yang cukup rendah tapi tidak saat itu. Saat itu harga pala sangat mahal dan menjadi rempah yang paling banyak di cari orang.

gambar: en.wikipedia.org

Bagi masyarakat barat, buah pala yang berada di kepulauan rempah-rempah di Indonesia, Maluku, saat itu adalah barang yang sangaat dibutuhkan. Karena selain bisa menjadi bahan makanan dan pengawet alami untuk makanan, ternyata pala juga bisa digunakan untuk obat-obatan.
Kenapa bisa mahal seperti itu? Mungkin naiknya permintaan buah pala adalah karena pala adalah salah satu solusi untuk mengurangi biaya perang seperti perang dunia 1 dan 2. Dengan penggunaan yang benar, pala bisa menjadi makanan alternatif bagi tentara sekaligus mampu menjadi pengawet alami sehingga pemerintah tidak perlu buru-buru menyetok ulang makanan untuk perang. Selain itu, obat-obatan juga hal penting lain yang harus ada pada setiap peperangan.
Tidak hanya itu, buah pala ternyata juga biasa digunakan oleh mereka yang tinggal di tempat dingin. Mereka kemudian menjadikan pala sebagai bahan minuman penghangat.


Menjadi komoditas termahal, sayangnya buah pala dengan kualitas terbaik saat itu hanya bisa ditemukan di Indonesia. Tepatnya kepulauan Maluku. Salah satu alasannya adalah karena keadaan alam atau ekosistem kepulauan Maluku sangat ideal untuk tanaman ini. Inilah yang menjadikan kepulauan Maluku menjadi tempat mendarat bangsa-bangsa eropa di tanah Nusantara.
Mahalnya buah pala di pasar dunia menjadikan penjajah semakin rakus mengeruk buah pala yang ada di kepulauan rempah-rempah. Mereka semakin diluar kendali sehingga pada akhirnya terjadi penjajahan pada masyarakat lokal oleh mereka.


Kepulauan rempah-rempah seperti kepulauan Maluku di Indonesia adalah bukti dari kekayaan yang dimiliki oleh negeri ini. Sebuah kekayaan yang pernah menjadi komoditas paling mahal di dunia. Hanya saja semua sudah berubah. Buah pala, misalnya, sudah tidak lagi menjadi komoditas termahal di dunia karena ilmu pengetahuan yang berkembang.
Ilmu pengetahuan adalah bukti lain dari perkembangan zaman. Di zaman modern seperti saat ini sudah banyak produk-produk lain yang ‘menyaingi’ buah pala dengan harga yang bersaing dan menjadikan pasar buah pala lesu terus menerus. Sepinya pasar buah pala ini pernah menjadikan pemerintah kolonial merugi dari Inggris.
Sekilas tentang kepulauan rempah-rempah di Indonesia seperti menyadarkan saya bahwa memang benar Indonesia adalah negeri yang sangat kaya dan makmur jika benar-benar dikelola dengan baik. Pertanyaannya adalah: apakah pengelolaannya selama ini sudah baik? Siapa yang mengelola?
Tinggalkan komentar kamu di kolom komentar dibagian bawah post ini dan berikan pendapat kamu tentang Kepulauan Rempah-Rempah di Indonesia ini. Terima kasih sudah berkunjung.

Salam
Sayanusantara

Tafakur Kebangsaan. Antara 17 Agustus Dan Lomba Makan Kerupuk. Apa Faedahnya?


Selamat hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Hari ini loh. 17 Agustus. Senang ya? Tapi ada satu hal yang mengganjal di pikiran saya sejak tadi siang. Kenapa setiap perayaan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus selalu dirayakan dengan lomba? Apa faedahnya?
Semenjak semalam, 16 Agustus malam, samping rumah saya yang lahan kosong yang sudah setengah dibangun ruko ramai. Beberapa kali orang memanggil orang lainnya untuk datang berkumpul: untuk selametan.
Selametan atau syukuran atas perayaan kemerdekaan Republik Indonesia tentu saja tidak hanya dilakukan oleh warga RT tempat saya tinggal. Tapi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Semua satu paduan warna: merah dan putih.
Menggunakan mikrophone mushola yang dipakai habis ba’da Isya panitia terus memanggil-manggil warga masyarakat yang ada di RT 01 RW 15 untuk berkumpul tapi tidak juga muncul. Padahal malam makin larut, makin ngantuk, makin banyak nyamuk. Warga tidak kunjung datang, panitia habis kesabaran, acara dimulai jam 21: kemaleman. Sesaat anak bayi saya tidur mereka memulai acara dengan microphone. Anak sayapun bangun keberisikan. Kasian si baby.

ref.gambar: commons.wikimedia.org


Kenapa Makan Kerupuk?
Seperti sudah menjadi icon dan perlombaan yang wajib ada di setiap 17 Agustusan. Makan kerupuk, balap lompat karung, sampai panjat pinang. Seru bagi semua orang karena mereka semua tertawa senang sambil sesekali mengelap keringat kepanasan di mukanya masing-masing.
Pikiran saya muncul ketika lomba makan kerupuk dimulai. Kenapa 17 Agustusan harus dirayakan dengan lomba-lomba seperti ini? Memang apa faedahnya?
Memangnya pernah gitu di jaman dahulu ada tentara penjajah mergoki pahlawan kita yang mau melawan terus pahlawan kita bilang, “apa lo? Lomba makan krupuk sini sama gua. Yang kalah pulang.” gak ada kan?
Bahkan saya juga pernah membaca sebuah artikel beberapa tahun lalu yang membahas tentang lomba panjat pinang. Lomba itu dulu diselenggarakan oleh kolonial yang memperlombakan orang-orang pribumi untuk mendapatkan sesuatu. Orang pribumi blepotan oli, menkilat dibawah terik matahari, injek-injekan, kompeni kegirangan. Penindasan dalam sebuah perlombaan atas nama hiburan.
Lomba panjat pinang memiliki sejarah yang masih terekam dengan jelas. Lalu apa kisah dibalik lomba makan kerupuk? Tangkap belut? Joget kursi? Lomba gaple? Apa faedahnya main kartu gaple dengan mempertahankan kemerdekaan? Kemerdekaan kan didapatkan dengan perjuangan hidup, mati, dan keringat, bukan adu main gaple.
Tafakur Kebangsaan
Jika kita memandang dengan pandangan mata biasa tentu saja lomba-lomba yang diselenggarakan oleh panitia 17 Agustusan tidak ada hubungannya dengan mempertahankan kemerdekaan. Tapi ternyata saya salah menilai. Ada sesuatu dibalik itu semua yang tidak saya sadari. Kamu bisa tebak itu apa?
Kebersamaan, solidaritas, persatuan dan kesatuan ternyata adalah sesuatu yang ada di balik setiap perlombaan. Semua berkumpul di satu tempat untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mempererat hubungan dengan sesama dengan cara membuat perlombaan.
Ada orang yang selalu sibuk bekerja sehingga jarang ada dirumah, ada juga yang sibuk dengan sekolahnya, sibuk masak sehingga jarang ketemu tetangga, dan juga ada banyak kesibukkan-kesibukkan lain membuat kita lupa bahwa kita punya lingkungan sosial di rumah. Kita bagian dari masyarakat Indonesia yang memiliki nilai-nilai luhur yang harus dipertahankan.
17 Agustusan sama halnya seperti Lebaran. Mereka yang jarang terlihat karena kesibukannya masing-masing dipanggil pak RT untuk kumpul di satu tempat untuk saling tegur sapa dan mempertahankan silaturahim. Dan perlombaan yang di susun oleh panitia 17 Agustusan adalah sarana mempererat hubungan itu.



Bangsa Yang Besar
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjuangan pahlawan-pahlawan terdahulu dan 17 Agustusan adalah moment yang tepat untuk mengenang semuanya.
Ada satu kenyataan yang cukup membuat kita mengernyitkan dahi saat memikirkannya: mungkin banyak diantara kita yang jiwa nasionalisnya hanya muncul setahun sekali. Kenapa bisa seperti itu?
Ibu pertiwi adalah ibu kita semua yang sudah mendidik serta melindungi kita sampai dengan hari ini. Lalu kenapa banyak orang yang melupakannya dan hanya mengingatnya satu tahun sekali? Itupun hanya sekedarnya saja. Seperti hanya datang untuk memeriahkan lomba makan kerupuk.
Bangsa ini besar karena memiliki nilai-nilai luhur yang harus terus dipertahankan keberadaannya. Gempuran kebudayaan asing yang datang semakin keras dan banyak generasi muda ibu pertiwi yang terhanyut terbawa mereka semua dan menganggap nilai-nilai yang dimiliki oleh ibu pertiwi sudah ketinggalan jaman dan kuno.
Apa yang dipertahankan dan diperjuangkan oleh para pahlawan saat melawan penjajah dimasa lalu tentu saja bukan hanya sebatas tanah dan air. Tapi juga mencakup nilai-nilai kebudayaan, budi pekerti, etika dan perilaku, serta peninggalan nenek moyang yang tidak ternilai harganya. Mereka memperjuangkan kearifan lokal bangsa Nusantara.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak lupa dengan siapa dirinya yang sebenarnya. Mereka yang tidak takut kehilangan nyawanya demi mempertahankan ajaran nenek moyang.
Memahami Pesan Ir.Soekarno
Ir.Soekarno pernah berkata bahwa perjuangannya melawan penjajah adalah perjuangan yang mudah. Justeru perjuangan kita saat inilah yang sukar. “Kamu akan melawan bangsamu sendiri”, itu katanya lantang.
Awalnya saya berfikir bahwa Ir.Soekarno sedang berbicara tentang perang saudara, perbedaan kelas ekonomi, gender, kewarganegaraan, atau politik semata. Tapi ternyata pesannya lebih dari itu. Ir.Soekarno berbicara tentang nilai-nilai luhur yang diwariskan ibu pertiwi kepada kita.
Kita sudah merasakan dampak dari krisis multidimensi yang melanda negeri ini sejak lama. Degradasi moral, yang muda tidak menghargai yang tua, yang tua semena-mena dengan yang muda, perbudakan, pencurian, pembunuhan, dan segala jenis kejahatan lain yang disebabkan lupanya anak bangsa dengan nilai-nilai luhur ibu pertiwi.
Indonesia memang memiliki wilayah yang luas. Masyarakatnya pun sangat banyak. Tapi apakah sebanyak itupula yang masih ‘eling’ dengan kearifan lokal? Masuknya budaya asing yang semakin tidak karuan ke negeri ini membuat banyak generasi muda yang melupakan kearifan lokal dan perlahan-lahan menjadi ancaman bagi negeri ini dari dalam.
Berapa banyak anak bangsa yang menjadi ‘anak durhaka’ karena mencoba mencelakai ibu pertiwi? Berapa banyak yang menjadi seorang fanatik kebudayaan asing dan melupakan kebudayaan tanah Nusantara?
17 Agustusan kali ini saya mendapatkan pelajaran yang sangat penting. Sesuatu yang sangat fundamental dalam perjalanan hidup saya sebagai seorang Indonesia. Seorang keturunan asli bangsa Nusantara yang terkenal hebat dan perkasa itu.
Apa yang kamu dapatkan dari 17 Agustusan kali ini? Sendal jepit? Seperangkat ATK karena berhasil juara satu tangkep belut? Percaya deh, ada hal yang lebih baik dari itu semua yang harus kamu dapatkan.
Tuliskan pendapat kamu di kolom komentar dibawah artikel ini jika kamu tidak setuju dengan pendapat saya tentang 17 Agustusan ini. Jika setuju, share melalui akun media sosial kalian agar semakin banyak saudara-saudara kita yang kembali ‘ingat’ bahwa kita adalah bangsa yang besar yang tidak seharusnya melupakan nilai-nilai luhur ibu pertiwi yang sudah mulai luntur digempur budaya asing.

Salam,
Sayanusantara

Terbaru

13 Fakta Kerajaan Majapahit: Ibukota, Agama, Kekuasaan, dan Catatan Puisi

  Pendahuluan Sejarah Kerajaan Majapahit memancarkan kejayaan yang menakjubkan di Nusantara. Dalam artikel ini, kita akan menyelami 20 fakta...