13 Fakta Kerajaan Majapahit: Ibukota, Agama, Kekuasaan, dan Catatan Puisi

 Pendahuluan

Sejarah Kerajaan Majapahit memancarkan kejayaan yang menakjubkan di Nusantara. Dalam artikel ini, kita akan menyelami 20 fakta menarik yang menjawab pertanyaan-pertanyaan penting tentang kerajaan ini. Apa sejarah Kerajaan Majapahit? Mengapa Kerajaan Majapahit runtuh? Siapa saja raja Kerajaan Majapahit? Dan dimana wilayah kekuasaan mereka? Saya Nusantara, mari kita gali lebih dalam kisah besar ini.


1. Asal Usul Nama Majapahit

Nama "Majapahit" berasal dari kata "Maja" dan "Pahit", mencerminkan keberanian dan ketangguhan yang menjadi ciri kejayaan Majapahit.


2. Ibukota yang Megah: Trowulan

Ibukota Majapahit berlokasi di Trowulan, Jawa Timur, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi, dan kebudayaan pada masa keemasan mereka.


3. Ketahanan dalam Perdagangan

Majapahit dikenal sebagai kerajaan maritim, mahir dalam perdagangan internasional dengan negara-negara Asia, Arab, Cina, dan Eropa.


4. Puncak Kekuasaan pada Zaman Hayam Wuruk

Hayam Wuruk, raja pada masa kejayaan, memimpin Majapahit hingga mencapai puncak kebesaran mereka.


5. Nagara Kretagama: Catatan Puisi tentang Majapahit

Nagara Kretagama mencatat dengan rinci kejayaan Majapahit pada abad ke-14, termasuk daftar wilayah kekuasaan mereka.


Sejarah Kerajaan Majapahit

Apa Sejarah Kerajaan Majapahit?

Majapahit berdiri pada awal abad ke-13 di bawah pimpinan Raden Wijaya, yang kemudian menjadi raja pertama. Mereka menggantikan kerajaan Singhasari dan berkembang menjadi kerajaan terbesar di Nusantara.


Kerajaan Majapahit Runtuh karena Apa?

Kejatuhan Majapahit disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Pada akhir abad ke-15, serangan dari Mataram dan perebutan kekuasaan internal melemahkan kerajaan ini, serta serbuan dari luar oleh Demak dan Portugis.


Siapa Saja Raja Kerajaan Majapahit?

Beberapa raja terkenal Majapahit antara lain Raden Wijaya, Hayam Wuruk, dan Gajah Mada. Mereka menjadi tokoh sentral dalam membangun dan mempertahankan kejayaan Majapahit.


Dimana Wilayah Kerajaan Majapahit?

Wilayah kekuasaan Majapahit meliputi sebagian besar wilayah Indonesia modern, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, dan Timor Leste.


Dalam helaian sejarah Nusantara, terdapat satu kerajaan yang memancarkan kejayaan luar biasa, yaitu Kerajaan Majapahit. Dalam artikel ini, kita akan mengupas 20 fakta menarik tentang kejayaan dan kebesaran kerajaan ini, yang tidak hanya menjadi bagian dari sejarah Indonesia tetapi juga menyinari kebesaran Nusantara. Saya Nusantara, kita semua adalah saksi hidup dari gemilangnya Kerajaan Majapahit.


6. Ketahanan dalam Perdagangan

Majapahit dikenal sebagai kerajaan maritim yang cakap dalam perdagangan. Mereka menjalin hubungan dengan negara-negara Asia, Arab, Cina, dan bahkan Eropa.


7. Puncak Kekuasaan pada Zaman Hayam Wuruk

Hayam Wuruk dikenal sebagai raja yang memimpin Majapahit pada masa keemasannya. Dia berhasil memperluas wilayah kekuasaan hingga mencapai puncak kejayaan.


8. Nagara Kretagama: Catatan Puisi tentang Majapahit

Nagara Kretagama, sebuah puisi epik Jawa klasik, mencatat dengan rinci kebesaran Majapahit pada abad ke-14, termasuk daftar-nama daerah dan kerajaan yang dikuasainya.


9. Candi Tegowangi: Bukti Keindahan Seni Bangunan

Candi Tegowangi di Blitar, Jawa Timur, menjadi bukti seni arsitektur Majapahit yang memukau. Candi ini mencerminkan kehebatan dalam membangun struktur berukir indah.


10. Sistem Pemerintahan yang Efisien

Majapahit dikenal memiliki sistem pemerintahan yang efisien dan terorganisir dengan baik. Hal ini tercermin dari karya sastra seperti "Negarakertagama" yang mencatat struktur pemerintahan pada masa itu.


11. Kehidupan Agama Hindu-Buddha

Meskipun Hindu-Buddha menjadi agama utama, Majapahit dikenal karena toleransinya terhadap berbagai kepercayaan dan budaya yang ada di Nusantara.


12. Raja-raja Terkenal: Hayam Wuruk dan Gajah Mada

Hubungan antara Hayam Wuruk dan Gajah Mada menjadi kisah terkenal di dalam sejarah Majapahit, menandai masa kejayaan dan persatuan.


13. Kejatuhan dan Pasca-Majapahit

Faktor internal dan eksternal menyebabkan kejatuhan Majapahit. Meski begitu, warisan budaya dan sejarahnya tetap hidup dalam ragam adat dan kebudayaan Nusantara.


Kesimpulan

Majapahit, sebagai bagian dari sejarah Nusantara, memberikan warisan berharga yang membentuk identitas Indonesia kita. Saya Nusantara, mari kita lestarikan dan menghargai kebesaran yang telah menjadi cikal bakal keberagaman dan kekayaan budaya di tanah air kita. Inilah sebagian dari cerita besar Nusantara yang tak boleh terlupakan.

Sejarah Kerajaan Majapahit merupakan perjalanan epik yang mencakup kejayaan dan kejatuhan yang tak terlupakan. Dari pusat kekuasaan di Trowulan hingga puncak Hayam Wuruk, Majapahit menjadi legenda di Nusantara. Saya Nusantara, mari kita jaga dan lestarikan warisan gemilang ini agar terus menyinari perjalanan masa depan kita.

Kerajaan Nusantara: Jejak Kejayaan di Nusantara yang Mempesona

 Pulau-pulau indah di Nusantara menyimpan begitu banyak cerita sejarah yang mencengangkan. Dari ujung barat hingga timur, pulau-pulau ini pernah menjadi tanah kejayaan bagi berbagai kerajaan yang mewarnai perjalanan sejarah Indonesia. Mari kita eksplorasi kekayaan sejarah tersebut dan temukan jawaban atas pertanyaan penting: "Kerajaan Di Nusantara apa saja?", "Kerajaan Nusantara ada berapa?", "Apa saja 10 Kerajaan di Indonesia", dan "Kerajaan apa saja yang pernah berjaya di Nusantara".


Jejak Kerajaan Di Nusantara

Pertama-tama, mari kenali beberapa kerajaan yang pernah berdiri di Nusantara. Salah satu yang paling terkenal adalah Majapahit, kerajaan besar yang menguasai sebagian besar wilayah Indonesia pada abad ke-14. Dengan ibu kota di Trowulan, Majapahit menjadi pusat kebudayaan dan perdagangan, membentuk fondasi kuat bagi kerajaan-kerajaan berikutnya.


Kerajaan Nusantara yang Terkenal

Majapahit: Sebagai salah satu kerajaan terbesar di dunia pada zamannya, Majapahit dikenal karena kekayaan seni dan budayanya yang luar biasa.


Sriwijaya: Merupakan kerajaan maritim yang berpusat di Sumatra, Sriwijaya berperan penting dalam jalur perdagangan laut Asia Tenggara.


Moluccas: Juga dikenal sebagai Spice Islands, Moluccas adalah pusat perdagangan rempah-rempah yang sangat berharga.


Kutai Martadipura: Salah satu kerajaan tertua di Indonesia, Kutai Martadipura, memiliki sejarah panjang yang mencakup periode Hindu-Buddha.


Demak: Sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak memainkan peran utama dalam penyebaran Islam di Nusantara.


Berapa Banyak Kerajaan di Indonesia?

Jumlah kerajaan di Indonesia tidak dapat dipungkiri, dan sejarah mencatat puluhan kerajaan yang pernah berdiri dan merajai wilayah tertentu. Meskipun sulit untuk memberikan angka pasti, perkiraan sejarah mencatat lebih dari 20 kerajaan di berbagai titik waktu.


10 Kerajaan di Indonesia yang Menakjubkan

Majapahit

Sriwijaya

Moluccas

Kutai Martadipura

Demak

Mataram

Singasari

Bali Kingdom

Aceh Sultanate

Ternate


Kejayaan Kerajaan di Nusantara

Masing-masing kerajaan tersebut mencapai kejayaannya dalam bidang ekonomi, politik, seni, dan kebudayaan. Contohnya, Majapahit memimpin dengan sistem pemerintahan yang efisien dan menyumbang karya seni monumental seperti relief candi Borobudur. Sriwijaya, sementara itu, menjadi pusat peradaban maritim di Asia Tenggara.


Namun, seperti kejayaan yang datang, kejatuhan pun tak terhindarkan. Faktor-faktor eksternal dan internal membawa kerajaan-kerajaan tersebut meredup, tetapi warisan budaya dan sejarah yang mereka tinggalkan masih hidup hingga kini.


Kesimpulan

Dengan memahami jejak kerajaan di Nusantara, kita dapat menghargai kekayaan sejarah Indonesia. Dari kejayaan Majapahit hingga gemerlapnya Sriwijaya, setiap kerajaan membentuk lapisan kisah Nusantara yang memukau. Kini, kita dapat melihat bangunan-bangunan peninggalan mereka dan merenung atas kehebatan masa lalu yang terpatri dalam setiap batu dan arsitektur. Saya Nusantara, kita semua adalah bagian dari warisan yang indah ini.

7 Ways to Travel with a Child with a Different Surname in Nusantara

 

7 Ways to Travel with a Child with a Different Surname in Nusantara

Planning a trip to Nusantara with your child who has a different surname? While this can be an exciting adventure, it can also be a bit overwhelming. Don't worry; we've got you covered! In this section, we'll share with you seven hassle-free ways to ensure a smooth and enjoyable experience while exploring the enchanting Nusantara archipelago with your little one.

Key Takeaways

  • Travelling with a child with different surnames may require additional documentation and preparation.
  • Proper documentation like consent letters, identity certificates and family cards are important to avoid any hassles.
  • Always check visa requirements, notify airlines and accommodation providers, and keep important documents handy.
  • In case of any difficulties, seek assistance from local authorities or embassies.
  • Embrace travel insurance for added peace of mind.

Understanding the Importance of Proper Documentation

Travelling to Nusantara with a child who has a different surname can lead to unexpected difficulties if you don't have the proper documentation. That's why it's crucial to understand which documents you need, and why they're necessary.

The first essential document you'll need is a valid passport for yourself, your child, and anyone else travelling with you. You must ensure that your child's passport includes their full name and any other necessary information, such as a recent photograph.

Additionally, if your child is not travelling with both legal parents, you'll need to carry an official consent letter from the absent parent containing specific details such as the duration of travel, destination, and your contact information. Failure to produce this letter can result in delays or even refusal of entry into the country.

Another important document is the birth certificate of your child. This document provides official proof of identity and relationship to both parents. It is highly recommended to carry a copy of this document with you, duly notarized by the embassy of your country or a local authority, and translated into Indonesian if required.

Lastly, it's worth checking the Indonesian immigration website for any visa requirements and regulations that must be adhered to. Keep in mind that visa regulations may vary depending on the nationality of your child and the reason for travel. Ensuring that all proper documentation is in place before you travel will help avoid any last-minute problems.

Obtaining Consent Letters from the Child's Parents or Legal Guardians

Travelling with a child who has a different surname can raise suspicions at customs and immigration, causing unnecessary delays and stress. To avoid these complications, it is advisable to obtain consent letters from the child's parents or legal guardians.

Consent letters are official documents that provide proof of permission for the child to travel with you. The letter should include information such as:

  • The child's full name and date of birth
  • Your full name and contact information
  • The purpose and dates of travel
  • Details of the child's parents or legal guardians, including their full names and contact information
  • A declaration of consent from the child's parents or legal guardians
  • Signatures from the child's parents or legal guardians

It is important to note that consent letter requirements may differ from country to country, so it's best to check with the relevant authorities before traveling. You may also need to have the letter translated into the language of your destination country.

By taking the time to obtain consent letters, you can help to ensure a smoother and stress-free travel experience for both you and the child you are traveling with in Nusantara.

Checking Visa Requirements and Regulations

Travelling to Nusantara with a child holding a different surname requires extra attention to be paid to visa requirements and regulations. Failure to comply with these requirements can cause complications and unnecessary hassle, causing unwanted delays.

Before embarking on your journey, make sure to do your research by visiting the official website of the country you plan to visit. Learn about visa requirements for your child and what documents are required to avoid any setbacks.

It's essential to keep in mind that visa regulations can change frequently and without notice, particularly during these unprecedented times. Ensure that your child's travel documents and identification materials meet the most up-to-date requirements in advance to avoid any potential travel delays.

Also, when preparing to travel to Nusantara, be sure to research all requirements related to your child's immigration status, including entry and exit regulations.

CountryVisa Requirement
IndonesiaA visa must be obtained in advance unless eligible for a visa-free or visa-on-arrival option.
MalaysiaNo visa requirement for stays of up to 90 days.
SingaporeNo visa requirement for stays of up to 30 days.

Checking visa requirements and regulations might seem like a daunting task, but it's an essential step in ensuring your journey goes according to plan. Stay informed by keeping up to date with the latest regulations to avoid any unplanned expenses or delays.

Notifying Airlines and Accommodation Providers in Advance

When traveling with a child who has a different surname, it is crucial to notify airlines and accommodation providers in advance. By doing so, you can avoid any potential complications that may arise at check-in or while checking into your accommodation.

To notify the airlines, you can contact them by phone or email and inform them of the situation. Be sure to provide all relevant documentation, including the consent letters and birth certificate, to prove your relationship with the child. Additionally, double-check your itinerary to ensure that the child's name matches the one on the documentation.

As for accommodation providers, you can inform them of the situation through their online booking platform or by calling them directly. Most hotels will request additional information to confirm your relationship with the child, so it is essential to provide all relevant documents. By notifying the accommodation providers in advance, you can ensure that your stay will be hassle-free.

Remember that it is always better to err on the side of caution and notify airlines and accommodation providers of your situation. By taking this step, you can avoid any potential misunderstandings or complications that may arise during your travels.

Keeping Important Documents and Identification Handy

Travelling with a child with a different surname requires careful planning. One essential aspect is ensuring you have all the important documents and identification you need for a smooth travel experience in Nusantara.

Before you travel, make sure to pack the following documents:

  • Passport: Ensure that your passport and your child's passport are up-to-date and valid.
  • Birth certificate: Carry a copy of your child's birth certificate as proof of your relationship.
  • Consent letter: Bring a consent letter from the child's other parent or legal guardian if they are not travelling with you.
  • Custody agreement: If you have a custody agreement, carry a copy of the court order.
  • Emergency contact list: Create a list of emergency contacts, including phone numbers for relatives, your doctor, and your child's school.

When packing your documents, keep them in a secure and easily accessible location, such as in your carry-on bag. Consider making copies and storing digital versions on your phone, in case the documents are lost or stolen.

Having all the necessary documents and identification on hand can help minimize any potential issues when travelling with a child holding a different surname in Nusantara.

Making Use of Family Cards and Identity Certificates

When traveling with a child who has a different surname, carrying family cards and identity certificates can simplify the travel process. Family cards are official documents issued by the Indonesian government that contain information about a family's members, while identity certificates (also known as KTP or identity cards) provide identification for each individual.

If the child with a different surname is accompanied by their biological parent, carrying a family card and the parent's identity certificate should suffice. However, if the child is traveling with a guardian, it is recommended to bring along a family card, a letter of consent from the parents or legal guardians, and the child's birth certificate.

To obtain a family card, visit the local civil registry office (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil) and provide the necessary documents and information. Meanwhile, identity certificates can be obtained at local government offices (Kantor Kelurahan).

Benefits of Family Cards and Identity Certificates

Showing family cards and identity certificates to authorities and officials can help prove the relationship between the child and the accompanying adults, which can be helpful when crossing borders or checking into accommodations. It can also expedite certain processes, such as obtaining local SIM cards or applying for visas.

DocumentBenefits
Family Card- Identifies family members
- Provides proof of relationship
- Facilitates certain processes
Identity Certificate- Provides identification for each person
- Helps prove the relationship between the child and accompanying adult
- May be required for certain activities or transactions

In summary, family cards and identity certificates can simplify the travel process and help prove the relationship between the child and accompanying adults. Ensure you have the necessary documents before embarking on your journey to experience a hassle-free trip.

Seeking Assistance from Local Authorities and Embassies

Travelling with a child who holds a different surname may require seeking assistance from local authorities and embassies in certain situations. To avoid any potential issues, it is wise to reach out for support when necessary.

If you encounter any legal inquiries during your travels in Nusantara, seek help from the local authorities. They can provide you with advice on local regulations and assist you in understanding the necessary procedures.

Embassies can also provide invaluable assistance when traveling with a child of a different surname. They can offer advice on any legal or travel-related issues you may face. Be sure to carry the embassy's contact information and location with you at all times to ensure prompt assistance when needed.

Embracing Travel Insurance for Added Peace of Mind

Travelling with a child who has a different surname can be exciting, but it comes with its own set of challenges. One of the best ways to ease the stress of your journey is by having travel insurance.

Nusantara is a large archipelago with diverse cultures, landscapes, and fascinating attractions. Though travelling here can be a thrilling experience, it's always best to prepare for the unexpected. Travel insurance is an excellent way to ensure that your trip is covered from start to end.

With travel insurance, you can have peace of mind that you're protected financially against unforeseen events such as trip cancellations, baggage loss, medical emergencies, or unexpected cancellations.

What to consider when selecting a policy?

ConsiderationsExplanation
Medical coverageConsider the level of medical coverage the policy provides. Does it include coverage for pre-existing conditions?
Coverage for family membersIf you're travelling with other family members, consider if your policy covers them.
Coverage for high-risk activitiesIf you're planning to engage in high-risk activities such as scuba diving or bungee jumping, make sure that your policy covers them.
Coverage limitsMake sure that the coverage limits are adequate to cover all the potential expenses.
DeductiblesUnderstand the deductibles and how much you have to pay out-of-pocket before the insurance kicks in.
24-hour emergency assistanceChoose a policy that offers 24-hour emergency assistance services.

Don't let unexpected events ruin your journey. With travel insurance, you can relax and enjoy all that Nusantara has to offer, knowing that you're covered.

Conclusion

Congratulations! You've made it to the end of our guide on traveling with a child who has a different surname in Nusantara. By following these seven hassle-free ways, you can explore the enchanting Nusantara archipelago with ease and peace of mind.

Remember to prioritize proper documentation, obtain consent letters from the child's parents or legal guardians, and check visa requirements and regulations. Additionally, notify airlines and accommodation providers in advance, keep important documents and identification handy, and make use of family cards and identity certificates.

If you encounter any issues or require assistance, don't hesitate to seek help from local authorities and embassies. Also, don't forget to embrace travel insurance for added peace of mind.

With these tips and recommendations in mind, you can enjoy a smooth and hassle-free travel experience with your child in the enchanting Nusantara archipelago. Bon voyage!

FAQ

Can I travel with a child who has a different surname in Nusantara?

Yes, you can travel with a child who has a different surname in Nusantara. However, there are certain steps you need to take to ensure a smooth travel experience.

What documents do I need when traveling with a child with a different surname?

When traveling with a child who has a different surname, it is essential to have proper documentation. This includes the child's birth certificate, consent letters from the parents or legal guardians, and any relevant identification documents.

Why are consent letters important when traveling with a child with a different surname?

Consent letters from the child's parents or legal guardians are important to show that you have permission to travel with the child. These letters can help prevent any potential issues or misunderstandings when going through immigration or security checkpoints.

What visa requirements and regulations should I be aware of when traveling with a child with a different surname?

It is important to check the visa requirements and regulations when traveling with a child with a different surname. Some countries may require additional documentation or have specific procedures in place. Make sure to research and comply with these requirements before your trip.

Should I notify airlines and accommodation providers in advance when traveling with a child with a different surname?

Yes, it is advisable to notify airlines and accommodation providers in advance when traveling with a child with a different surname. This will help ensure a smoother experience and avoid any potential misunderstandings or complications.

What important documents and identification should I keep handy when traveling with a child with a different surname?

When traveling with a child with a different surname, it is crucial to keep all important documents and identification handy. This includes passports, birth certificates, consent letters, and any other relevant documentation that may be required during your trip.

Can family cards and identity certificates be helpful when traveling with a child with a different surname?

Yes, family cards and identity certificates can be helpful when traveling with a child with a different surname. These documents can provide additional proof of the child's relationship to you and help simplify the travel process.

What should I do if I need assistance from local authorities or embassies while traveling with a child with a different surname?

If you need assistance from local authorities or embassies while traveling with a child with a different surname, reach out to them for support. They can provide guidance, assistance, and help resolve any issues or concerns you may encounter.

Is travel insurance necessary when traveling with a child with a different surname?

Yes, travel insurance is necessary when traveling with a child with a different surname. It provides added peace of mind by offering coverage for medical emergencies, trip cancellations, and other unexpected events that may occur during your trip.

Nyaris 0 Derajat. Dieng? Bukan! Ini Penampakan Kota Terdingin Di Indonesia Yang Tidak Banyak Orang Tahu


Apa kata pertama yang kalian pikirkan ketika ada seseorang menyebutkan kata Papua? Kekayaan alam? Ternyata Papua menyimpan banyak tempat indah yang harus kamu coba kunjungi dalam waktu dekat.
Di kenal juga dengan nama distrik Mulia, kota Mulia adalah kota terdingin di Indonesia yang ada di Papua. Baru pertama kali dengar? Berikut penjelasan singkat dari kota terdingin di Indonesia tersebut.


gambar: pixabay.com


Kota Mulia adalah salah satu kota yang berada di Kabupaten Puncak Jaya Wijaya, Papua. Kota ini ada pada ketinggian 2.448 meter dari permukaan laut. Saking dinginnya, konon saat malam tiba suhu di kota Mulia ini bisa mencapai 9 derajat celcius. Mendekati 0 derajat!!

Baca juga: Nasib 14 Permainan Tradisional Indonesia Di Jaman Modern

Jika memang disana dingin bagaimana cara hidup masyarakat disana? Salah satu cara hidup masyarakat setempat untuk mengatasi dingin adalah dengan tinggal didalam honai yang merupakan rumah adat khas Papua. Karena hanya memiliki satu pintu dan tidak memiliki jendela, honai adalah tempat tinggal ideal bagi masyarakat setempat karena mampu menahan dinginnya udara sekitar. Walaupun seperti itu tidak semua bangunan menggunakan honai karena tetap ada bangunan yang terbuat dari semen dan bahan-bahan lain seperti bangunan pada umumnya. Hanya saja bangunan seperti itu biasanya hanya digunakan sebagai bangunan pemerintahan atau pelayanan publik.
Walaupun berada di atas ketinggian 2.448 mdpl, kota Mulia bukanlah sebuah kota yang tertinggal atau terbelakang. Karena kota Mulia sendiri diperkirakan memiliki penduduk mencapai 24.649 jiwa dan sudah dilengkapi dengan infrastruktur yang berfungsi sebagai pelayanan publik. Salah satunya adalah sekolah sampai dengan rumah ibadah dan bandara.

Baca juga: 4 Alasan Kenapa Kita Harus Melestarikan Budaya Indonesia

Daya tarik lain yang dimiliki oleh kota Mulia adalah pemandangan alamnya. Karena berada di dataran tinggi dan berada di kawasan puncak Jaya Wijaya, kota Mulia memiliki pemandangan alam yang indah dengan landscape pegunungan Jaya, sungai dengan air yang jernih, lembah hijau, dan sebagainya.


Video: Youtube/Donny Renmaur

Kota Mulia adalah salah satu destinasi yang harus kamu kunjungi jika sedang atau akan mengunjungi papua. Pasti akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan saat mengunjunginya.

Baca juga: 3 Langkah Mudah Mencintai Indonesia

Hanya saja untuk mencapai kota Mulia tidaklah mudah. Karena kota tersebut berada di ketinggian, maka cara termudah untuk mencapainya adalah dengan pesawat terbang jenis caravan. Karena jika menggunakan jalur darat kita akan membutuhkan waktu selama 16 jam untuk sampai kesana setelah melewati jurang dan jalan berbatu khas daerah pegunungan.
Apa kamu tertarik untuk mengunjungi kota Mulia? Apa gambaran pribadi kamu tentang kota ini? Tuliskan pendapat kalian tentang kota Mulia sebagai kota terdingin di Indonesia ini di kolom komentar dibawah.


Salam
Sayanusantara


Sumber: Kumparan.com

Kisah Bagaimana Buah Pala Bisa Lebih Mahal Dari Emas Dan Menjadi Barang Termahal Di Dunia


Kita semua tentu sudah tahu bahwa sebenarnya Indonesia adalah sebuah negeri yang Gemah Ripah Loh Jinawi. Semua yang dibutuhkan ada sampai dengan rempah-rempah. Dan kali ini kita akan membahas tentang Kepulauan Rempah-Rempah Indonesia yang sangat terkenal di dunia sampai saat ini.
Spices Island atau kepulauan rempah-rempah pernah menjadi primadona yang membuat tanah Nusantara sangat terkenal di dunia di masa lalu. Bahkan banyak penjelajah yang mencari tahu bagaimana cara mencapai pulau ini. Bahkan kepulauan inilah tempat penjajah pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Nusantara.


Saat ini kepulauan tersebut lebih dikenal dengan nama pulau Maluku. Terdiri dari beberapa pulau kecil, Maluku pernah menjadi kiblat banyak penjelajah dunia. Dan salah satu alasan kenapa banyak yang mencarinya adalah karena harga rempah pada saat itu jauh lebih tinggi dibandingkan harga emas.
Salah satu yang dicari banyak orang di kepulauan rempah-rempah di Indonesia adalah buah Pala. Mungkin jika saat ini kita bisa membeli pala dengan harga yang cukup rendah tapi tidak saat itu. Saat itu harga pala sangat mahal dan menjadi rempah yang paling banyak di cari orang.

gambar: en.wikipedia.org

Bagi masyarakat barat, buah pala yang berada di kepulauan rempah-rempah di Indonesia, Maluku, saat itu adalah barang yang sangaat dibutuhkan. Karena selain bisa menjadi bahan makanan dan pengawet alami untuk makanan, ternyata pala juga bisa digunakan untuk obat-obatan.
Kenapa bisa mahal seperti itu? Mungkin naiknya permintaan buah pala adalah karena pala adalah salah satu solusi untuk mengurangi biaya perang seperti perang dunia 1 dan 2. Dengan penggunaan yang benar, pala bisa menjadi makanan alternatif bagi tentara sekaligus mampu menjadi pengawet alami sehingga pemerintah tidak perlu buru-buru menyetok ulang makanan untuk perang. Selain itu, obat-obatan juga hal penting lain yang harus ada pada setiap peperangan.
Tidak hanya itu, buah pala ternyata juga biasa digunakan oleh mereka yang tinggal di tempat dingin. Mereka kemudian menjadikan pala sebagai bahan minuman penghangat.


Menjadi komoditas termahal, sayangnya buah pala dengan kualitas terbaik saat itu hanya bisa ditemukan di Indonesia. Tepatnya kepulauan Maluku. Salah satu alasannya adalah karena keadaan alam atau ekosistem kepulauan Maluku sangat ideal untuk tanaman ini. Inilah yang menjadikan kepulauan Maluku menjadi tempat mendarat bangsa-bangsa eropa di tanah Nusantara.
Mahalnya buah pala di pasar dunia menjadikan penjajah semakin rakus mengeruk buah pala yang ada di kepulauan rempah-rempah. Mereka semakin diluar kendali sehingga pada akhirnya terjadi penjajahan pada masyarakat lokal oleh mereka.


Kepulauan rempah-rempah seperti kepulauan Maluku di Indonesia adalah bukti dari kekayaan yang dimiliki oleh negeri ini. Sebuah kekayaan yang pernah menjadi komoditas paling mahal di dunia. Hanya saja semua sudah berubah. Buah pala, misalnya, sudah tidak lagi menjadi komoditas termahal di dunia karena ilmu pengetahuan yang berkembang.
Ilmu pengetahuan adalah bukti lain dari perkembangan zaman. Di zaman modern seperti saat ini sudah banyak produk-produk lain yang ‘menyaingi’ buah pala dengan harga yang bersaing dan menjadikan pasar buah pala lesu terus menerus. Sepinya pasar buah pala ini pernah menjadikan pemerintah kolonial merugi dari Inggris.
Sekilas tentang kepulauan rempah-rempah di Indonesia seperti menyadarkan saya bahwa memang benar Indonesia adalah negeri yang sangat kaya dan makmur jika benar-benar dikelola dengan baik. Pertanyaannya adalah: apakah pengelolaannya selama ini sudah baik? Siapa yang mengelola?
Tinggalkan komentar kamu di kolom komentar dibagian bawah post ini dan berikan pendapat kamu tentang Kepulauan Rempah-Rempah di Indonesia ini. Terima kasih sudah berkunjung.

Salam
Sayanusantara

Tafakur Kebangsaan. Antara 17 Agustus Dan Lomba Makan Kerupuk. Apa Faedahnya?


Selamat hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Hari ini loh. 17 Agustus. Senang ya? Tapi ada satu hal yang mengganjal di pikiran saya sejak tadi siang. Kenapa setiap perayaan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus selalu dirayakan dengan lomba? Apa faedahnya?
Semenjak semalam, 16 Agustus malam, samping rumah saya yang lahan kosong yang sudah setengah dibangun ruko ramai. Beberapa kali orang memanggil orang lainnya untuk datang berkumpul: untuk selametan.
Selametan atau syukuran atas perayaan kemerdekaan Republik Indonesia tentu saja tidak hanya dilakukan oleh warga RT tempat saya tinggal. Tapi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Semua satu paduan warna: merah dan putih.
Menggunakan mikrophone mushola yang dipakai habis ba’da Isya panitia terus memanggil-manggil warga masyarakat yang ada di RT 01 RW 15 untuk berkumpul tapi tidak juga muncul. Padahal malam makin larut, makin ngantuk, makin banyak nyamuk. Warga tidak kunjung datang, panitia habis kesabaran, acara dimulai jam 21: kemaleman. Sesaat anak bayi saya tidur mereka memulai acara dengan microphone. Anak sayapun bangun keberisikan. Kasian si baby.

ref.gambar: commons.wikimedia.org


Kenapa Makan Kerupuk?
Seperti sudah menjadi icon dan perlombaan yang wajib ada di setiap 17 Agustusan. Makan kerupuk, balap lompat karung, sampai panjat pinang. Seru bagi semua orang karena mereka semua tertawa senang sambil sesekali mengelap keringat kepanasan di mukanya masing-masing.
Pikiran saya muncul ketika lomba makan kerupuk dimulai. Kenapa 17 Agustusan harus dirayakan dengan lomba-lomba seperti ini? Memang apa faedahnya?
Memangnya pernah gitu di jaman dahulu ada tentara penjajah mergoki pahlawan kita yang mau melawan terus pahlawan kita bilang, “apa lo? Lomba makan krupuk sini sama gua. Yang kalah pulang.” gak ada kan?
Bahkan saya juga pernah membaca sebuah artikel beberapa tahun lalu yang membahas tentang lomba panjat pinang. Lomba itu dulu diselenggarakan oleh kolonial yang memperlombakan orang-orang pribumi untuk mendapatkan sesuatu. Orang pribumi blepotan oli, menkilat dibawah terik matahari, injek-injekan, kompeni kegirangan. Penindasan dalam sebuah perlombaan atas nama hiburan.
Lomba panjat pinang memiliki sejarah yang masih terekam dengan jelas. Lalu apa kisah dibalik lomba makan kerupuk? Tangkap belut? Joget kursi? Lomba gaple? Apa faedahnya main kartu gaple dengan mempertahankan kemerdekaan? Kemerdekaan kan didapatkan dengan perjuangan hidup, mati, dan keringat, bukan adu main gaple.
Tafakur Kebangsaan
Jika kita memandang dengan pandangan mata biasa tentu saja lomba-lomba yang diselenggarakan oleh panitia 17 Agustusan tidak ada hubungannya dengan mempertahankan kemerdekaan. Tapi ternyata saya salah menilai. Ada sesuatu dibalik itu semua yang tidak saya sadari. Kamu bisa tebak itu apa?
Kebersamaan, solidaritas, persatuan dan kesatuan ternyata adalah sesuatu yang ada di balik setiap perlombaan. Semua berkumpul di satu tempat untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mempererat hubungan dengan sesama dengan cara membuat perlombaan.
Ada orang yang selalu sibuk bekerja sehingga jarang ada dirumah, ada juga yang sibuk dengan sekolahnya, sibuk masak sehingga jarang ketemu tetangga, dan juga ada banyak kesibukkan-kesibukkan lain membuat kita lupa bahwa kita punya lingkungan sosial di rumah. Kita bagian dari masyarakat Indonesia yang memiliki nilai-nilai luhur yang harus dipertahankan.
17 Agustusan sama halnya seperti Lebaran. Mereka yang jarang terlihat karena kesibukannya masing-masing dipanggil pak RT untuk kumpul di satu tempat untuk saling tegur sapa dan mempertahankan silaturahim. Dan perlombaan yang di susun oleh panitia 17 Agustusan adalah sarana mempererat hubungan itu.



Bangsa Yang Besar
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjuangan pahlawan-pahlawan terdahulu dan 17 Agustusan adalah moment yang tepat untuk mengenang semuanya.
Ada satu kenyataan yang cukup membuat kita mengernyitkan dahi saat memikirkannya: mungkin banyak diantara kita yang jiwa nasionalisnya hanya muncul setahun sekali. Kenapa bisa seperti itu?
Ibu pertiwi adalah ibu kita semua yang sudah mendidik serta melindungi kita sampai dengan hari ini. Lalu kenapa banyak orang yang melupakannya dan hanya mengingatnya satu tahun sekali? Itupun hanya sekedarnya saja. Seperti hanya datang untuk memeriahkan lomba makan kerupuk.
Bangsa ini besar karena memiliki nilai-nilai luhur yang harus terus dipertahankan keberadaannya. Gempuran kebudayaan asing yang datang semakin keras dan banyak generasi muda ibu pertiwi yang terhanyut terbawa mereka semua dan menganggap nilai-nilai yang dimiliki oleh ibu pertiwi sudah ketinggalan jaman dan kuno.
Apa yang dipertahankan dan diperjuangkan oleh para pahlawan saat melawan penjajah dimasa lalu tentu saja bukan hanya sebatas tanah dan air. Tapi juga mencakup nilai-nilai kebudayaan, budi pekerti, etika dan perilaku, serta peninggalan nenek moyang yang tidak ternilai harganya. Mereka memperjuangkan kearifan lokal bangsa Nusantara.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak lupa dengan siapa dirinya yang sebenarnya. Mereka yang tidak takut kehilangan nyawanya demi mempertahankan ajaran nenek moyang.
Memahami Pesan Ir.Soekarno
Ir.Soekarno pernah berkata bahwa perjuangannya melawan penjajah adalah perjuangan yang mudah. Justeru perjuangan kita saat inilah yang sukar. “Kamu akan melawan bangsamu sendiri”, itu katanya lantang.
Awalnya saya berfikir bahwa Ir.Soekarno sedang berbicara tentang perang saudara, perbedaan kelas ekonomi, gender, kewarganegaraan, atau politik semata. Tapi ternyata pesannya lebih dari itu. Ir.Soekarno berbicara tentang nilai-nilai luhur yang diwariskan ibu pertiwi kepada kita.
Kita sudah merasakan dampak dari krisis multidimensi yang melanda negeri ini sejak lama. Degradasi moral, yang muda tidak menghargai yang tua, yang tua semena-mena dengan yang muda, perbudakan, pencurian, pembunuhan, dan segala jenis kejahatan lain yang disebabkan lupanya anak bangsa dengan nilai-nilai luhur ibu pertiwi.
Indonesia memang memiliki wilayah yang luas. Masyarakatnya pun sangat banyak. Tapi apakah sebanyak itupula yang masih ‘eling’ dengan kearifan lokal? Masuknya budaya asing yang semakin tidak karuan ke negeri ini membuat banyak generasi muda yang melupakan kearifan lokal dan perlahan-lahan menjadi ancaman bagi negeri ini dari dalam.
Berapa banyak anak bangsa yang menjadi ‘anak durhaka’ karena mencoba mencelakai ibu pertiwi? Berapa banyak yang menjadi seorang fanatik kebudayaan asing dan melupakan kebudayaan tanah Nusantara?
17 Agustusan kali ini saya mendapatkan pelajaran yang sangat penting. Sesuatu yang sangat fundamental dalam perjalanan hidup saya sebagai seorang Indonesia. Seorang keturunan asli bangsa Nusantara yang terkenal hebat dan perkasa itu.
Apa yang kamu dapatkan dari 17 Agustusan kali ini? Sendal jepit? Seperangkat ATK karena berhasil juara satu tangkep belut? Percaya deh, ada hal yang lebih baik dari itu semua yang harus kamu dapatkan.
Tuliskan pendapat kamu di kolom komentar dibawah artikel ini jika kamu tidak setuju dengan pendapat saya tentang 17 Agustusan ini. Jika setuju, share melalui akun media sosial kalian agar semakin banyak saudara-saudara kita yang kembali ‘ingat’ bahwa kita adalah bangsa yang besar yang tidak seharusnya melupakan nilai-nilai luhur ibu pertiwi yang sudah mulai luntur digempur budaya asing.

Salam,
Sayanusantara

Malu Menjadi Diri Sendiri Di Tanah Nusantara? Jangan Pernah. Ini Alasannya


Ada sebuah artikel menarik yang saya baca sore tadi. Menjadi diri sendiri. Sesuatu yang mudah diucapkan tapi cukup sulit untuk di coba karena ada banyak tantangannya. Salah satunya adalah malu. Ya, malu menjadi diri sendiri di tanah Nusantara.
Menjadi diri sendiri adalah salah satu hal yang ingin dicapai oleh banyak orang. Walaupun terkadang bertentangan dengan banyak nilai-nilai yang sudah ada di lingkungan nyatanya keinginan untuk menjadi berbeda selalu muncul entah dari mana.
Kenapa tidak perlu malu menjadi diri sendiri di Tanah Nusantara? Untuk apa? Mari kita lihat apa yang sudah dimiliki bangsa ini. Ada banyak kan? Salah satu hal penting yang menjadikan bangsa Nusantara menjadi bangsa yang besar di masa lalu adalah karena nenek moyang kita menjadi diri mereka sendiri. Mereka kuat dari dalam.

ref. gambar: pxhere.com

Seberapa Penting Menjadi Diri Sendiri Di Tanah Nusantara?
Sangat penting. Seperti sudah di singung di kalimat sebelum ini: bangsa Nusantara di masa lalu bisa menjadi bangsa yang sangat kuat dan besar karena mereka mampu menjadi diri mereka sendiri.
Pelajari bagaimana besarnya kerajaan Mataram, Pajajaran, Sunda, bahkan Majapahit yang mampu mempersatukan bangsa Nusantara menjadi satu kekuatan besar. Apakah mereka mendapatkan intervensi dari luar? Apakah ada pengaruh dari luar Nusantara? Mereka dapat melakukannya karena mereka percaya mereka bisa.
Patih Gajah Mada yang sangat terkenal dengan sumpahnya untuk mempersatukan Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit adalah salah satu contohnya. Dia percaya diri dan optimis. Rasa percaya diri itulah yang kemudian menjadikannya terus bergerak dan terpacu untuk mencapai apa yang menjadi tujuannya.


Nilai-nilai perjuangan yang dimiliki oleh nenek moyang bangsa Nusantara sebenarnya masih bisa kita rasakan saat ini. Walaupun peninggalan-peninggalan tersebut sudah bercampur dengan kebudayaan-kebudayaan lainnya, namun tentu saja peninggalan tersebut memiliki nilai tersendiri yang menjadikannya berbeda dengan peninggalan kebudayaan yang dibawa pendatang.
Seperti misalnya ajaran Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh yang merupakan ajaran asli tanah Sunda. Jika masyarakat Sunda tidak percaya diri untuk menjadi dirinya sendiri sudah pasti kita tidak akan mengenal ajaran itu saat ini karena terbentur dengan budaya asing yang semakin banyak masuk ke tanah Nusantara ini.
Silih Asih: saling mengasihi, menyayangi, menghormati; Silih Asah: saling meningkatkan kemampuan, saling support dalam meningkatkan kualitas diri; Silih Asuh: Saling menjaga, saling melindungi.

Baca juga: Hubungan Antara Efek Domino Dengan Nusantara Yang Tidak Pernah Di Kupas Sebelumnya

Nusantara Bangga Menjadi Dirinya Sendiri
Saya bukan sebuah robot. Begitu juga kamu semua. Tidak ada alasan bagi kita untuk mengikuti semua yang orang lain inginkan. Bagi saya mendengarkan apa yang orang lain katakan adalah keharusan tapi menjadikan itu semua menjadi sebuah patokan saya harus menjadi seperti apa nantinya tentu saja tidak.
Mendengarkan dengan baik adalah etika yang harus dijaga karena kita harus menghargai orang yang berbicara. Tapi menjadikan ucapan mereka menjadi patokan hidup kita itu adalah pilihan.
Kita semua tahu bawa Indonesia adalah negara kepulauan dengan lebih dari 70% wilayahnya adalah laut. Tidak hanya sekarang dahulu juga seperti itu. Itulah kenapa bangsa Nusantara dikenal juga sebagai bangsa pelaut. Nenek moyangku seorang pelaut.

Baca juga: Tafakur Kebangsaan. Hubungan Antara 17 Agustus Dan Lomba Makan Kerupuk

Karena mereka seorang pelaut sudah pasti mereka mengunjungi daerah-daerah lain diluar wilayah Nusantara untuk tujuan tertentu sekaligus membawa nilai-nilai luhur yang mereka yakini. Mereka percaya diri dengan apa yang mereka miliki, mereka bangga akan hal itu, dan mereka berhasil membuat penduduk setempat terpesona. Itulah kenapa sampai saat ini ada beberapa negara yang mempertahankan nilai-nilai tersebut. Bahkan beberapa negara di benua Afrika ada yang menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi!!

Jangan Minta Maaf Karena Telah Menjadi Diri Sendiri Di Tanah Nusantara
Kita harus bangga dengan apa yang diwariskan oleh nenek moyang Nusantara. Justeru nilai-nilai tersebut yang sudah terbukti pernah menjadikan bangsa Nusantara menjadi bangsa yang disegani dimasa itu.
Jangan lagi takut di anggap aneh karena mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa ini di tengah globalisasi kebudayaan yang semakin tidak menentu arahnya. Dengan mempertahankan nilai-nilai tersebut menandakan bahwa kita adalah orang yang memiliki jati diri. Kita memiliki nilai.
Jika saat ini banyak yang menganggap bahwa permasalahan yang ada di Indonesia sudah terlalu besar dan sulit untuk selesaikan menurut saya itu adalah sesuatu yang berlebihan. Masih ada hal yang bisa kita lakukan selama kita tidak melupakan siapa jati diri kita sebenarnya.
Kita adalah bangsa yang memiliki nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh nenek moyang dari generasi ke genarasi. Tentu saja permasalahan yang ada saat ini pernah juga dihadapi oleh nenek moyang kita pada masanya kita hanya perlu ‘mencontek’ bagaimana mereka menyelesaikannya.
Bingung bagaimana cara mempersatukan perbedaan? Pelajari bagaimana Patih Gajah Mada mempersatukan bangsa ini saat dahulu kala.


Tidak akan ada perubahan jika perubahan tersebut tidak dimulai dari diri sendiri. Kita sendirilah yang menentukan mau kearah mana hidup ini? Ini hidup saya maka saya yang harus menentukan mau kemana arah hidup saya ini. Saya bertanggung jawab atas hidup ini.
Jangan pernah minta maaf karena berbeda karena sudah menjadi diri sendiri. Justeru dibalik cibiran yang mungkin datang dari orang lain, justeru mereka sendirilah yang iri karena tidak mampu menjadi diri sendiri. Bisa saja mereka iri karena tidak bisa menjadi seperti yang kita lakukan.

Ini pendapat saya tentang menjadi diri sendiri di tanah Nusantara. Jangan pernah malu untuk menjadi bangsa Nusantara seutuhnya. Kita adalah anak cucu dan generasi dari sebuah bangsa yang besar dan terhormat. Terus kenapa malu?
Kamu punya pendapat lain tentang menjadi diri sendiri di Tanah Nusantara? Tuliskan komentar kamu di kolom komentar dibawah sehingga kita bisa sharing lebih dalam tentang hal ini nantinya.


Salam,
Sayanusantara

Terbaru

13 Fakta Kerajaan Majapahit: Ibukota, Agama, Kekuasaan, dan Catatan Puisi

  Pendahuluan Sejarah Kerajaan Majapahit memancarkan kejayaan yang menakjubkan di Nusantara. Dalam artikel ini, kita akan menyelami 20 fakta...